PSSI Siram Bensin ke Api Konflik Shin Tae-yong dan Indra Sjafri?

Jakarta – Hubungan PSSI dengan Shin Tae-yong makin jadi tanda tanya. Kenapa situs resmi federasi memuat klarifikasi Indra Sjafri saja terkait kabar perselisihan dengan Shin?


Shin Tae-yong mengakui sempat ada perselisihan dengan Indra Sjafri. Perselisihan Shin dengan pelatih asal Sumatera Barat itu bermula dari aksi kepergian Indra tanpa pamit pada kepulangan Timnas Indonesia U-19, yang baru tiba dari Thailand di awal Februari.

Pelatih asal Korsel pun memutuskan Indra tak menjadi bagian tim kepelatihannya lagi. Indra juga absen pada pemusatan latihan Timnas Indonesia di Stadion Madya pada pertengahan Februari 2020.

Shin juga mengungkapkan keheranannya dengan sikap PSSI yang suka berubah-ubah. Ada pula keputusan PSSI memecat Ratu Tisha Destri dari kursi Sekertaris Jenderal yang disinggung Shin. Semua diungkap ke media Korea Selatan.

PSSI dan Indra, yang kini menjadi direktur teknik, semula enggan mengomentari pernyataan Shin. Tak lama kemudian, di malam harinya, PSSI memuat berita klarifikasi Indra di situs resmi federasi dengan judul “Indra Sjafri: Publik Harus Tahu, Ini Masalah Harga Diri Bangsa”.

Pengamat sepakbola, Mohamad Kusnaeni, menilai bahwa perselisihan Shin dan Indra tak perlu jadi konsumsi publik. Penyelesaiannya bisa langsung melibatkan pihak-pihak internal terkait. Indra bahkan menyebut apa yang dikatakan Shin adalah kebohongan. Indra juga menuduh Shin terlalu banyak alasan karena tidak bisa memenuhi target yang dibebankan oleh PSSI.

“Ini seharusnya urusan yang selesai di internal dan cukup levelnya di direktur teknik, paling jauh sekjen. Jadi, itu udah internal banget, tidak usah jadi konsumsi publik karena sangat teknis,” kata Kusnaeni kepada detikSport.

Kusnaeni juga mempertanyakan pembentukan Satgas Timnas. Dia menilai hal itu tak perlu dan lebih baik memaksimalkan orang-organ di struktur PSSI yang sudah ada.

“Kalau mau membentuk Badan Tim Nasional tidak apa-apa. Kalau untuk mengurus timnas tidak perlu satgas. Itu sifatnya di luar struktur, misalnya PSSI membentuk Satgas Persiapan Piala Dunia, Satgas Penanggulangan COVID-19, kalau seperti itu masih masuk akal,” ungkap Kusnaeni.

“Permasalahan Timnas itu di federasi mana saja pasti selalu ada setiap hari, karena itu tidak perlu ada satgas. Harus direktorat yang existing, kalau tidak direktorat pakai badan. Dulu ada Badan Tim Nasional, Badan Liga karena dianggap masalahnya penting dan hal yang rutin. Di bawah kesekjenan banyak direktorat. Itu yang difungsikan. Satgas itu cuma buat masalah khusus,” tegasnya.